Posted in Family

Belajar Menjadi Istri (wanita) sholihah

Seminggu yang lalu, saat aku di jambi, aku ketawa geli saat suami ngasih aku selebaran kertas. Apakah itu? ternyata itu proposal nikahku dulu. Aduh, aseli, malu, geli jadi satu.

“Abang gak sengaja nemuin, pas beres2 lemari.” ucap suamiku.

Aduh, aku maluuuuu….

Dengan pelan2 aku ambil lah lembaran2 kertas itu yang udah terlipat-lipat lusuh. Perasaanku saat itu, malu… hihihi… Aku mulai membaca kembali ketikanku beberapa tahun lalu itu. Tau gak? aku nulis proposal nikahku itu pake bahasa inggris. Gaya bgt kan? Dan aku mengetiknya di power point, jadi pas di print ada tanggalnya gitu, tahun 2014. Suamiku memang mendapatkan proposal tersebut baru tahun 2015, tapi aku mengetik dan memprintnya di tahun 2014.

Aku membaca sifat2 yang aku tulis di proposal tersebut:

Sifat negatif:

  • Moody
  • Keras kepala
  • Cerewet
  • Ceroboh
  • Sensitif

Aku ngakak dan suamiku bingung.

“Abang, abang kok mau-maunya sih punya istri yang sifatnya kayak gini?” tanyaku masih sambil mesem-mesem.

“Gak apa2, yang penting masih bisa diarahkan.” jawabnya pelan.

Nyessss… adem banget dengernya. Itulah mengapa aku merasa beruntung telah dipilih dan telah memilihnya. Dia melengkapiku. Walopun usianya lebih muda 1,5 tahun tapi dia bisa dewasa, bs jadi imamku. Walo kadang sih suka manja-manja lucu jg.

Kalau diinternet itu kan kita nemuin banyak sekali format biodata ta’aruf. Aku mah gak ngikutin, bikin sendiri. Karena menurutku yang di internet itu kaku banget dan gak banget aku. Aku lebih suka membuatnya sendiri, jadi saat orang yang menerima nya membacanya, orang tersebut bisa langsung ada gambaran orang seperti apa yang membuat biodata tersebut.

Oiya, kali2 aku mau bikin postingan bermanfaat..  hihihi.

Continue reading “Belajar Menjadi Istri (wanita) sholihah”

Posted in Family

Lelaki ini mengalihkan duniaku

Alhamdulillah, sudah menginjak minggu ke-4 berumah tangga.

Rasanya pengen segera 4 tahun.. loh…hehehe

Saya menikah di usia 30 tahun. Uhuy, pas bgt yak! Alhamdulillah angka 30 nya gak ampe pecah yah… #dih apaan sih

Saya lagi jatuh cinta, berkali2, pada orang yang sama. Banyak yang ngeledekin saya katanya “Mentang2 pengantin baru…” yang ngeledekin biasanya yang udah pada nikah lama, dalam hati aku, “Emang kalian gak ngerasain kayak gt jg sampe sekarang ya?” #dan kemudian aku terdiam.

Buat saya dunia saya sekarang warnanya PINK doang. ada warna2 lain mgkn, tapi cerah semua. Dan saya berdoa dengan segenap tenaga, agar selamanya seperti itu. Pink dan warna2 cerah lainnya. Dan kalopun ada warna gelap dateng, plis ya Allah.. jgn pake lama.

Oiya cerita sekilas tentang suami pujaan ini, beliau dan saya pernah berada di kota yang sama selama beberapa tahun, hingga beliau lanjut S2 ke India. Eh tapi kami sama sekali blm pernah kenal lho… sama sekali.

Kemudian saya meninggalkan kota tersebut pada bulan November, eh si Suami (waktu itu blm) ternyata sudah kembali Bulan agustus. Jadi selang 3 bulan gt lah. Dan saya sempat menghadiri pernikahan sahabat saya di kota tersebut pada Bulan November dan si bapak inni datang juga. Tapi tentu saja kami sama sekali blm saling mengenal.

Murobbiyah saya yang di Jambi yang memproses kami. Walau saya sudah pindah ke Jakarta, namun saya dan murobbiyah saya masih intens ngobrolnya. Via BBM. Hampir menginjak satu tahun kepindahan saya, sang murobbiyah bilang kalau ada yang mau ta’aruf sama saya. Biodata saya sdh dipegang oleh ikhwannya tersebut. Saat itu rasanya deg2an banget lho. Karena jujur saja, saya sudah berada di titik kepasrahan untuk bertemu jodoh. Benar2 saya sempat bilang H-2 hari itu, “Ya Allah, saya pasrah siapapun jodoh saya dan kapan ketemunya. Saya yakin Engkau telah mengaturnya dengan tepat.” Sayanya sempet ngerasa ragu sedikiittt sih, seddiiiikittt doang. Karena masalah jarak. Tapi Alhamdulillah bisa terlewati dengan banyak2 berdoa dan beristighfar.

Saya butuh waktu 2 minggu untuk kemudian ta’aruf dengan beliau didampingi oleh Murobbiyah saya dan suaminya dan juga Murobbi sang Ikhwan. Waktu itu… rasanya blank. Tapi saya sudah punya sederet pertanyaan buat diajukan. hehehe. Ah tapi saya ternyata mati gaya, saat sang ikhwan ini lebih banyak diamnya. huhuhuu…. Ya kali saya yang nanya mulu. Emang sih saya bawel, tapi bawel di saat ta’aruf saya rasa terlalu dini deh.

Selang 2 hari dari ta’aruf saya dikabarin sama murobbi kalo minggu depannya si ikhwan mau khitbah. Degh! Ini beneran?? duh, saya benar2 merasa kayak mimpiiii. Emak, anaknya akhirnya ada juga yang mau ngelamar! hehe

Continue reading “Lelaki ini mengalihkan duniaku”

Posted in Family, Ibadah, life, Peradaban, Uncategorized

Honeymoon

Alhamdulillah pny suami yang memiliki visi dan misi yang sama. Kami sudah 2x melakukan syuro keluarga kecil kami dan aku semakin bahagia. Ada banyak perasaan yang sangat sulit untuk diucapkan dengan kata-kata.

Jadi sejak hari H pernikahan, kami berdua cuti selama2 minggu. Berjalan berdua aja ke sana kemari.

HONEYMOON,

Sebelum bertemu dengannya yang ada dalam benakku tentang sebuah honeymoon itu adalah Mesir, atau minimal Lombok.

Tapi setelah bertemu dengannya, ternyata rencana berjalan dengan lebih indah lagi. Kami banyak bersilaturahim dengan orang-orang. Saudara2 terutama dan teman2 pengajian.

Saya yang kadang suka malas silaturahim ini dipaksanya untuk silaturahim…. dinasehati, “Silaturahim itu berpahala, memanjangkan usia. keletihannya anggap aja jogging” aduh, meleleh.

Suami saya orangnya kalem, hatinya lembut. Kalo lagi kyk gt, saya suka malu sendiri dgn sikap saya yang suka cuek dan kdg jutek.

Hobi kami klo lagi bosen, baik itu di kereta, di busway atau dmnpun adalah bikin tebak2an garing dan kami ketawa bareng.

Continue reading “Honeymoon”

Posted in Family, Uncategorized

Being a wife

walimahan

 

 

Alhamdulillah sudah seminggu beralih status menjadi seorang istri 🙂

Bersyukur bgt!!! jitak jidatku dong. Karena rasanya sampai sekarang masih kayak mimpi 🙂

Proses kami begitu mudah, lewat murobbi. Jalur PKS. Tempat saya ngaji.

Tgl 03 Oktober saya nerima proposalnya.

Tgl 17 Oktober ta’aruf didampingi kedua murobbi

Tgl 01 November Khitbah

Tgl 25 Desember Walimah 🙂

 

Alhamdulillah… sang suami (kala itu masih calon suami) lancar bgt ngasih hapalan surat ar-rahman sebagai salah satu mahar.

Sebelum akad, si calon suami jaga pandangan betulll! Tak pernah melirik sedikitpun ke saya. Paling senyum aja pas kami berpamitan.

Alhamdulillah, karena ternyata… banyak sekali kecocokan di antara kami. Impian kami sama. Banyaaakkkk sekali kesamaannya.

Beliau sangat memuliakan saya sebagai istrinya, sahabat terbaiknya dan juga sebagai adiknya.

Continue reading “Being a wife”

Posted in Family

Kenapa Pernikahan dibilang setengah dien?

Ahahaha, pagi2 seorang yang berstatus single a.k.a me mau membicarakan hal ini 🙂

Hal ini sudah lama di otak, tapi baru bertuangkan sedikit.

Well, banyak atau dikit, aku emang curious ama yg namanya pernikahan, maksudku, saat kita bersama dengan seseorang selama 24 jam!!! walo LDM  pasti juga harus lapor selama 24 dong??!

Lingkungan sekitarku banyak memberiku contoh konkret nyata bahwa pernikahan itu seperti sebuah penyakit 😀 Beneran aku ngomong gini. Aku gak bisa sebutin satu2, tapi terakhir aku denger cerita dari seseorang yang sangat dekat denganku. Dia bilang gini,

“Suamiku itu gak pernah mau nyuci mobilnya di tempat cucian mobil. Dia emang sering bantuin aku masalah rumah tangga, tapi jadinya dia juga nuntut aku bantuin… kayak nyuci mobil itu salah satunya. atau benerin pompa. aku sampe mau nangis.”

“Kamu mgkn gakkan percaya, orang tuaku dan suamiku itu crash…”

Continue reading “Kenapa Pernikahan dibilang setengah dien?”