Posted in Uncategorized

Prompt #27: Malam Pertama

Warna merah saga mulai menampakkan garisnya di sekitaran langit arah barat. Senja. Pertanda senja mulai tiba. Angin sudah ku rasakan semilir dingin. Nitrogen mulai memenuhi paru-paruku. Oksigen mulai terasa tipis. Dingin. Aku mengatur nafas.

Semakin erat aku mengosok2kan kedua tangan. Berusaha membuat kehangatan diantara gesekan-gesekan.

Ah, malam mulai terasa. Iya, Malam itu tiba juga. Akhir dari vegetasi, kini beranjak ke lautan pasir.

Bintang-bintang menjadi saksi, indah, tapi tidak bisa membantuku melewati malam ini.

Terseret-seret langkahku. Satu pijakan, dua kali terjatuh. Sial! gertukku dalam hati.

Ku lihat ke belakang, ahhh,, gelap sekali!

Ku lihat ke atas, tak kalah gelapnya.

Ini malam yang gila. benar-benar gila.

“teruslah berpijak, yakinkan langkah kakimu…” tiba-tiba sebuah suara datang. Aku melongok ke kanan dan ke kiri. Suara siapa itu? aku mengernyitkan dahi.

“Bukan seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa yakin langkahmu..”

“Bukan sampai atau tidak sampainya tujuan, tapi seberapa kamu berusaha mencapai tujuan”

Suara itu terus bergelam, di antara sayap-sayap awan putih dan langit biru. yang sekarang gelap, tentu saja.

Ah, aku tidak mampu!

Aku terdiam. Menginjakkan kaki keras-keras dan menancapkan tracking poll dalam-dalam ke dalam pasir. Menatam tajam ke atas. Memandang dengan cermat.

Ini malam pertamaku, di puncak semeru, Mahameru.

Posted in Uncategorized

Keindahan Mahameru (1)

Banyak cerita saat menuju mahameru…

Secara pribadi, byk sekali hikmahnya. Saat sendirian. Saat benar2 menyerahkan raga dan jiwa kepada Sang Maha Menguasai Raga Dan Jiwa. Saat nafas terasa sangat sesak.

Memang aku sejak awal tidak ingin memaksakan apapun. Aku berjalan. Tapi tidak ngoyo. Nafas ku memang pendek2, aku byk istirahat. Aku pendaki karbitan tanpa ilmu, hanya berbekal ingin tahu dan merindu pada keagungan.

Tapi Alloh berikan aku lebih dari seluruh yg aku ingin tau sejak aku berangkat ke sana.

Persahabatan.

Persahabatan yang indah dan memang sudah indah sejak beberapa tahun dengan Diah Irma, terasa lebih indah lagi. Oh wahai kawan, alangkah sepinya duniaku tanpa hadirmu…. cara berpikirnya yang sering kali membuatku kewalahan, impiannya yang selalu persisten dan tidak tergoyahkan. Membuatku sering malu karena sifatku yang kekanak-kanakkan.

Pun saat ia berjalan di depanku, demi menggapai impiannya, dia menitipkan sesuatu yang sangat berharga buatku, tracking tool. Iya, sebuah tracking tool yang sangat mahal dan belum pernah dipakainya, diserahkannya begitu saja padaku. Untuk membantuku melalui jalan2 indah menuju puncak mahameru..

Indah, persahabatan yang Engkau berikan sungguh indah, kawan…

Selalu mengingatkan untuk makan saat aku merasa mual dan tidak karuan rasanya. Selalu menyemangati walau aku merasa aku sendiri sangat pesimis dan gagal.

Oh Tuhan, jagalah sahabat saya ini… Kirimkanlah seseorang yang sangat mencintaiMu untuk mencintainya dengan tulus dan indah dan jaga keduanya hingga surgaMu kelak. aamiin…

Demi Cinta, demi persahabatan, demi kebersamaan yang telah banyak kita lewati, kawan…. kamu saudariku, seiman, seperjuangan, sepenanggungan…. I just cant imagine my life without you. Yes, I still alive, but must be very boring.

Photo by Vj Lie
Photo by Vj Lie
Posted in Uncategorized

Mahameru-ku

Kembali ke rumah, dengan seribu perasaan berkecamuk 🙂
Yg paling kerasa sih rasa bersyukurnya… setelah melewati semua perjalanan itu dan saya masih sehat wal afiat. Subhanallah…. 🙂 alhamdulillah.

Pengalaman ke semeru yg gila banget.
Kalo anakku nanya apa hal paling gila yg pernah ku lakukan? Menaklukkan puncak mahameru 🙂

Pukul 6 pagi Dari hotel di surabaya, aku naik bis ke kota malang (terminal arjosari), naek ojek ke tumpang. Sebenarnya angkot ada, tp bisa sejam. Sedangkan temen2 udah nungguin di tumpang. Di rumah pak laman, temen2 dari jakarta yg baru pd turun dr kereta ekonomi jakarta-malang, selama 17 jam, langsung bersih2. Aku nungguin sambil kenalan sama yg laennya.
Dari tumpang naek truk selama 2 jam, ke ranu pane (pegunungan semeru). Dari sinilah pendakian di mulai.

Siap-siap menuju pengalaman tak terlupakan
Sebelum pendakian kita harus ijin dl, ksih fc ktp dan surat keterangan sehat. Bayar 10 rb per 3 hari. Di sini ada sedikit kericuhan antara koordinator dgn pengelola. Aku gak tau persis masalahnya dmn. Mgkn sejak film 5 cm dan pendakian massal yg pernah diadakan oleh avt**h perijinan pendakian jd lbh ketat (dan komersil?).

Jam 3.30 sore kami baru mulai mendaki. Baru beberapa meter aku udah pengen nangis. Jalan yg terus mendaki, membuat kakiku sakit dan ngos2an. Aku ngeluh ke diydut, my sister yg ksh aku hadiah ultah mendaki ke semeru. Tp perjalanan harus terus berlanjut bkn?
Radang tenggorokan yg menyiksa, tas yg beratnya uju buneng dan tentu saja medan yg terjal, bikin aku luar biasa kewalahan. Ditambah, ini pendakian pertamaku. Cocok.
Untung timnya baik2… huhuhu… mbak ain jagain aku terus, mgkn karena dia tau aku bener2 pendaki karbitan.
Sampe di ranu kumbolo jam 9 malam, berarti perjalanan kira2 5,5 jam dr ranu pane ke ranu kumbolo.

Di situ kami bangun tenda, 4 tenda tepatnya. Wiwit, mbak ain dan diah mulai masak untuk makan malam. Aku terdiam. Gak byk bicara. Ya, aku syok. Gak nyangka perjalanan seberat ini dan aku senekad itu. Padahal aku tau dr awal, aku tidak akan pernah sanggup.
Aku pun ambil keputusan dan blg sama anak2, bsk pagi aku turun. Aku enggan lanjut ke kalimati.
Tapi tidak ada yg mendengar. Mereka selalu bilang aku bisa. Diah jg gak menggubris keinginanku turun gunung. Semalaman aku demam. Aku jg lagi flu. Aku benar2 bertekad untuk pulang. Ku bayangkan kasur hangatku dan mengutuk diriku sendiri, sejak kpn aku berniat gila naik gunung?! Aku emang suka. Tapi kan aku shrsnya sadar, aku gak mampu.

Esok paginya, entah dpt ilham darimana, mungkin karena terhipnotis dgn indahnya pemandangan pagi di ranu kumbolo, aku lanjut terus ke kalimati. Bayangan pulang buyar begitu saja. Entah apa yg telah membuat kakiku terus melaju. Walau sakit bukan main.

Ranu Kumbolo By Wiwit
Ranu Kumbolo By Wiwit

Medan dr ranu kumbolo ke kalimati lbh dahsyat lagi. Dengan kemiringan hampir 45 derajat.
Aku gak sanggup lagi. Lagi2 aku pgn pulang, mundur. Aku gak kuat…… mual, sesak nafas, benar2 buat mentalku down.

image
Vj Lie “my hero” dari ranu kumbolo ke kalimati

Tiba2 seorang teman dr tim, mas vj menawarkan diri membawa tasku. Aku cengok. Yg bener aja. Dia aja udh bawa keril 95 liter di punggungnya?! “Nanti klo gue keberatan, gue balikin” katanya setengah becanda. Aku datar. Gak mau munafik, aku gak kuat lg bawa kerilku. Tapi menambah beban ke org laen yg sesungguhnya adalah bebanku, adalah jg sangat menyakitkan.

Aku terdiam. Tanpa bahasa. Lebih byk tersenyum. Aku nurut aja saat dia nyuruh aku jalan duluan. Yah, seduluan apapun aku berjalan, bagaimanapun dia selalu bisa kembali menyamakan langkah denganku. Aku payah, pengen nangis, sesak. Tapi aku diam dan mencoba tersenyum. Rasa gak enak terus menyelusup dlm hatiku.

Tari ngedrop, untung mbak ainun dan rida lsg ambil tindakan, klo gak dia bisa hipotermia. Mbak ainun yg luar biasa jg ambil alih kerilnya tari. Mbak ainun jg bawa 2 keril. Subhanallah….. aku berniat nungguin tari tapi aku dilarang. Aku disuruh terus maju. Jgn sampe aku ikut drop.

Diah menyerahkan tracking toolnya ke aku buat summit, pdhl dr awal dia blg klo dia bawa tracking tool buat summit. Aku pgn peluk diah. Diah so sweet bgt….

Jam 11 malam, setelah makan byk, kami mulai summit. Keril ditinggal di tenda di kalimati. Hanya sedikit minum dan sedikit makanan untuk logistik selama di perjalanan. Target kami jam 5 subuh sdh sampai puncak. Kami mulai mendaki ke arcopodho, cemoro tunggal dan akhirnya…. puncak mahameru.

Awalnya kami jalan terus berbarisan. Mas vj pun dgn baik hati msih terus bimbing aku selama perjalanan, “satu langkah nafas, satu langkah hembuskan” begitu terus yg diucapkan.

Aku lagi2 kewalahan. Saat di cemoro tunggal, aku mulai ilang dri barisan. Alhamdulillah masih ada rizki, bang annas sama tari yg ngejagain aku dgn sorot lampunya. Mas vj ngejar sunrise dgn kameranya. Aku berada di paling belakang barisan. Sesekali aku terdiam, mereka meneriakiku.

Jam 3 pagi, semua gelap. Para pendaki bagai kunang2, byk sekali, dgn headlamp di kepalanya. Aku mulai kehilangan teman2ku. Mereka jauh di depan sana.
Udara yg dingin menggigit. Luar biasa. Sarung tanganku pun rasanya tertusuk2 angin dingin. Aku serba salah. Kalau aku diam, aku bs mati membeku, kalau aku bergerak, aku gk pny energi lagi. Minumku terbawa mas vj. Setiap beberapa menit aku berhenti, memakan kurma atau cokelat yg memang sengaja dibawa untuk mencharge energi atau meminta setenggak minum ke pendaki yg melewatiku. Antara sadar dan tidak. Aku bhkn sempet tertidur sejenak. Ini adalah kondisi luar biasaku. Dmn aku merasa Alloh sdh bicara denganku….

Masih di perjalanan pasir menuju puncak mahameru, fajar menyingsing. Aku pun solat subuh di kemiringan kira2 45 derajat. Dgn tayamun menggunakan pasir di situ. Subhanallah. Indah sekali.
Aku bersyukur dengan sangat.
Setengah 6 pagi, ada suara memanggil namaku. Ternyata tari. Aku terharu dan rasanya ingin melonjak2. Ternyata dia, rizki sama bang annas nungguin aku di depan. Rizkipun blg, “gak sia2 kan dari jambi. Gue blg jg apa, lo bisa pasti bisa”

Ku pikir puncak sdh di depan mata. Ternyata aku tertipu. Entah dmn puncak itu terletak. Yg ku rasakan hanyalah keletihan dan sedikit kesal. Karena semakin berjalan, tiada aku temui puncak. Tari mengingatkanku untuk sabar. Aku diam saja.

Jam 7 pagi, aku liat temen2 mulai turun. Aku kaget. Sekaligus bingung. Terus aku gmn??? Kata temen2 puncak masih sejam lagi.

Bang annas msh berusaha membantuku naik puncak. Sampai dia kewalahan sendiri. Aku terharu bgt. Bang Annas baik bgt… hiks hiks.

Tapi ah sudahlah. Sepertinya aku harus menyerah… sepertinya harus ku kalahkan egoku jg. Aku tidak sanggup lagi…. aku menghela nafas sambil menahan tangis. Aku teringat pesan papa saat aku ijin ke semeru, “ingat ratih,,, klo udah letih, jgn dipaksa…”Aku tidak berjodoh dgn puncak mahameru…..aku harus turun. Dgn kemenanganku sendiri. Dengan mahameruku sendiri….. 8/9 menuju puncak mahameru.

Aku turun di dampingi mas vj lagi. Dia janji mau liatin poto2 sunrise yg udah berhasil di dapetin pas di puncak dgn kamera DSLR nya.

Aku menatap puncak mahameru dengan sedikit gemas. Walau merasa kapok naik gunung, tapi entah knp aku merasa mahameru suatu saat akan mengundangku kembali…. 🙂

Makasih diah irma, mbak ainun, wiwit, tari, mas vj, bang annas, jari, rizki, slank, ridha, bang rois, eggie, dan dwi. Esp diah irma, mas vj, bang annas, mbak ainun, jari sama tari, kalian luar biasa 🙂 subhannallah..,
Semoga ALLOH selalu jagain kalian sbgmn kalian selalu jagain sesama…. aamiin ya robbal alamiin…

Full Team By Rizki
Full Team By Rizki

Makasih Alloh atas kesempatan luar biasa ini….. *sujud syukur*
Walaun badan gempor, bengkak sana sini, dan malamnya hrs rela tidur di bandara tapi pengalaman ini benar2 tak ternilai harganya….. alhamdulillah…. alhamdulillah.,,, 🙂

image
Photo by: VJ lie

Mas vj, makasih buat tulisannya di blog. Makasih udh mau jd guru dan teman yg baik.