Posted in Family

Ujian hidup

Aku baru selesai tabata 4 set, dan mungkin karena hari baru selesai hujan, ini keringetan ngucur deras bangetttt….

anyway, I just lost my baby… 4 days ago. Kalo kata kakakku ini, mendapatkan momongan adalah ujian hidupku saat ini. Ya setelah ujian hidup mencari pasangan hidup sudah terlewati. Begitulah hidup ya. Aku cuma berharap bahwa aku lulus melewati ujian demi ujian ini. Walaupun aku gak tau kriteria kelulusannya apa. Rasa bersyukur dan sabar? Mungkin?

Sekilas saja, Baby A gak bertahan di rahim ibunya ini. Detak jantungnya lemah. Saat pertama kali mendengar detak jantungnya aku bener2 nangis bahagia, tapi dokter bilang detak jantungnya lemah. Ah kalo diingat itu adalah 2 minggu paling aneh dalam hidupku. Moodku aneh. Aku masih ngantor. Tilawah dan dzikir masih aku jaga terus. Lalu hari itu saat jadwal kontrol, FHR of my baby already gone. Panik. Langsung putar arah ke RSCM, ke dokter fetomaternal. Aku hanya berdoa “Ya Allah, jika anak saya masih bisa diselamatkan, maka bantulah kami untuk berusaha semaksimal mungkin, namun jika memang belum rejeki kami, maka mohon lapangkan hati saya dan hati suami saya untuk menerima semua ketentuanMu.

Then, Hasilnya sama. He/She couldnt make it. Allah sayang baby A. Diambilnya kembali. Karena Baby A memang milik Allah SWT.  Allah adalah sebaik2nya pelindung dan penjaga.

Suami saya yang kelelahan saat itu, setelah menyetir dari depok-duren 3-kelapa gading-menteng- duren 3, ilang fokus. Saat itu beliau super kelelahan. Hatinya, energinya, dsb. I know. He was miserable. He wants this kid much more than me.

Tapi aku gak mau bermalam di mobil, aku mau tidur, di kamar. Maka setir aku ambil alih dari pasar minggu ke depok. Aku menangis dalam diam. Ya nangislah ya, namanya juga kehilangan. Kata suamiku, Rasul aja kehilangan anak nangis, apalagi kita yang masih banyak dosa? Well said, beib.

Continue reading “Ujian hidup”

Advertisements