Posted in friendship, Fun

LOST IN PRAU

Malam ini kami berkumpul di Stasiun Senen, Kami berlima belas. 9 orang akhwat dan 6 orang ikhwan. Masing-masing dari kami membawa keril besar berisi segala macam kebutuhan pendakian.

Rois memimpin doa dan mengingatkan kami untuk meluruskan niat kami selama perjalanan. Bahwa ini bukan hanya sekadar jalan-jalan, tapi lebih lagi. Sebagia besar di antara kami adalah pendaki pemula. Dan Gunung Prau, dengan ketinggian 2.565 mdpl bukanlah sebuah tempat untuk bermain-main dengan keselamatan.

Jpeg

Pukul 21.00 wib, Kereta serayu membawa kami. Kami dengan hati yang sangat bersemangat sekaligus khawatir. Seperti apakah di Gunung nanti. Mampu kah kami? dan berbagai pertanyaan lain di dalam hati kami. Perjalanan dari Jakarta ke Purwokerto selama 10,5 jam cukup membuat badan kami pegal2. Sesampai di Purwokerto kami mencarter angkot ke wonosobo. Gunung Prau terletak di kawasan pengunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

adib hasan - DSC_0134

adib hasan - DSC_0161

Bismillah… pukul 2an siang kami sudah sampai di tempat pendaftaran untuk pendakian dan dengan nama Allah, kami berlima belas jalan beriringan. Beberapa menit setelah pendakian sempat terjadi sesuatu, Dini, salah seorang rekan kami mendadak sakit nafas. Kak Nisa yang siap sedia dengan oksigen pun langsung memberikan bantuan. Kemudian teman2 lain berusaha mengurangi bawaan barang di tas Dini. Agar lebih ringan.

Pos 1 sampai dengan pos 2 dapat kami laksanakan dengan cukup baik. Tantangan kembali hadir setelah Pos 3 “cacingan”. Saya pribadipun sempet tercengang sejenak. Ih…. sadis amat tanjakannya. Dengan tanah berdebu, angin kencang, dan tanjakan tajam mendekati 90 derajat.

Saya jalan beriringan dengan mini dan kak nisa. Jauh di depan sana Mbak Yosa berjuang sendirian. Paling depan. Saya agak hawatir dengan mbak yosa. Beliau pemula tapi semangatnya luar biasa. Sedangkan sebagian besar teman2 masih di belakang. Karena memang ada beberapa yang benar2 pemula sehingga para ikhwan mendampingi. Alhamdulillah Akh Fujhi mampu mengejar kami, begitu juga Rois. Sehingga mereka dapat mengejar mb yosa. Sedang saya mendampingi Kak Nisa yg terlihat kelelahan.

Saat itu langit mulai sangat gelap. Indah memang. Tapi meninggalkan waswas yang cukup berarti di hati saya. Dan pastinya juga teman2. Kami mulai menyalakan headlamp kami masing-masing. Kacau… lelah bukan main. Nafas terengah2. Langit gelap dan angin kencang bukanlah kondisi ideal menurut saya.

Alhamdulillah saya dan kak nisa sudah sampai puncak. Dan ternyata Mini dan Mb Yosa sudah menanti kami. Dan kamipun diantar ke lokasi tenda yang sedang dibangun oleh Akh Fujhi dan Rois. Setelah itu saya dan Mb Yosa kembali ke lokasi muka puncak, untuk menanti teman2 lainnya. Sejurus kemudian terdengar teriakan.. “Ashabul Kahfi…..” dari arah pendaki yang baru sampai puncak. Alhamdulillah, ternyata teman2 sudah sampai ke puncak semua.

Dingin luar biasa yang menusuk kulit. Ba’da makan malam kami sholat Maghrib – Isya yang dijamak qoshor plus di laksanakan di atas pasir dengan tayamum dan beralas kaki. Mengikuti Saat Rasulullah solat di saat tdk dapat menemukan air di padang pasir berabad-abad lalu.

Ba’da sholat, di gelapnya malam dan dinginnya angin yang berhembus, Kami semua berada di dalam tenda kecuali rois. Rois memberikan taujih tentang perjalanan dakwah yang menghangatkan hati (walo badan tetap dingin). Rencananya malam in juga ada tadabbur. Tapi sayang kondisi memang tidak memungkinkan. Pukul 11 malam, kami semua sudah terlelap.

DSC_0396

Esok paginya kami hunting matahari terbit. Allahu Akbar!!! Indah bangetttt

adib hasan - DSC_0278

Selesai mendapatkan citra pagi tadi menggunakan kamera dan HP, saya memisah sebentar dari rombongan. Melihat orang2 di puncak saat itu yang mungkin jumlahnya ratusan. Alhamdulillah tdk terlalu padat namun juga tidak sepi. Tak henti saya mengucapkan tahmid. Ah… luar biasa sekaaliiii ya Allah… indah sekali ciptaanMu ini. Adakah lagi yang meragukan keagunganMu? kebesaranMu? Ke Maha EsaanMu?

DSC_0297

Selesai menikmati suasana pagi hari, kami membuat sarapan pagi. Segala macem mie, kornet, sisa rendang dan tempe orek tadi malam. Kami makan bersama-sama. Yang penting kenyang🙂

Pukul 09 pagi, kami berkemas kembali. Melipat tenda, packing keril dan mengumpulkan sampah untuk kembali di bawah turun gunung.

DSC_0404

Perjalanan turun gunung bukannya lebih mudah. Namun lebih berat, dimana beban turun itu adalah 7x berat badan dan bawaan yang dibawah. Alhamdulillah sudah sampai di rumah singgah jam 12. Kami bergegas bersih2 dan makan siang.

Pukul 01. 00 kami sudah di angkot carteran menuju Purwokerto. Ah sayang sekali kami tidak sempat mencicipi mie ongklok, makanan khas wonosobo yang katanya nikmat itu. hiks.. hiks.. rasanya sedih sekali. Masih ngidam sampe sekarang. karena udah terlanjur diPHP in sama Kak Nisa dan Rachmat.

Alhamdulillah sampai Stasiun  Purwokerto sejam sebelum boarding kereta api. Karena sewaktu pemesanan tiket balik tidak bersamaan, sehingga perjalanan pulang terbagi menjadi 3 kloter. kloter pertama terdiri dari sepuluh orang, kloter ke dua 3 orang dan kloter ke 3 ada 2 orang.

Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Hanya uni saja sempat kram. Dan tentunya semua letih, lelah.

Dai atas gunung aku sadari satu hal lagi, bahwa apapun yang indah itu hanya bisa di dapat dari sebuah tekad dan usaha yang maksimal🙂

Selamat sore, selamat pegal2 yang udah 3 hari gak ilang2… hehehehehe🙂

Bergabung bersama Ashabul Kahfi🙂

One thought on “LOST IN PRAU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s