Posted in Uncategorized

Prompt#26: Pak Tua yang membaca Koran, “Pak Kardi”

Prompt #26
Prompt #26

Pagi itu Pak Kardi sangat sumringah. Disemirnya sepatu pantopel butut yang sudah hampir jebol itu sampai mengkilat. Disiapkan baju seragam warna hijau sewaktu ia masih bekerja sebagai tentara ABRI dahulu. Ia pernah ditempatkan di barisan pembebasan Timor Timur atau sekarang dinamakan Timor Leste. Dia merasakan perihnya, dan lebih perih lagi saat mengetahui Timor Timur akhirnya lepas juga dari NKRI. Teringat semua perjuangan dahulu ia dan kawannya. Saat nyawa menjadi begitu murah yang kapan saja bisa terhempas.

Tapi Pak Kardi memakai Baju loreng itu bukan karena ingin mengenang masa perjuangannya dahulu. Bagi ia, itu semua hanya masa lalu. Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat ia mengabdi, tidak hanya untuk negerinya, tapi untuk agamanya. Bukankah membebaskan tanah kelahiran dari penjajahan adalah bentuk dari jihad fii sabilillah seperti yang dulu sering Tengku ajarkan padanya sewaktu kecil? Ia tersenyum mengingat almarhum ayahnya yang juga seorang ulama di serambi mekkah. Dari ayahnyalah ia mewariskan semangat pejuang. Membela yang haq dari yang bathil. Hingga akhirnya ia memutuskan menjadi tentara yang kala itu bernama ABRI.

“Pak, sudah siap belum?” tanya Nyonya Kardi yang juga tidak kalah tuanya dengan Sang Suami, membuyarkan lamunan Pak Kardi.

“Iya, sudah… Eneng udah belum?” tanya balik Pak Kardi yang memanggil istrinya dengan panggilan, ‘Eneng’ suatu fenomena yang sangat romantis untuk usia pernikahan yang sudah melewati angka emasnya.

“Eneng juga sudah… tadi Tiara telepon, sebentar lagi sampai… sudah sampai tol pasteur katanya” Ucap sang istri sambil menghampiri Pak Kardi yang sedang menyeruput teh hangat di teras sambil membaca koran, seperti yang dilakukannya setiap pagi. Bedanya kali ini ia mengenakan seragam lengkap dan sepatu pantopel bututnya. Menanti kehadiran Anak, menantu dan cucunya yang belum pernah ditemuinya sama sekali. Pak Kardi gugup, tentu saja. Dia akan bertemu dengan cucunya yang sudah berusia 4 tahun.

Sebuah mobil carry warna biru terlihat berusaha masuk ke dalam perkarangan rumah Pak Kardi. Ah itu dia, ucap Pak Kardi dalam hati. Jantungnya semakin tidak karuan, seperti sebuah orkestra yang tidak memiliki pembimbing.

Seorang bocah kecil turun didampingi oleh kedua orang tuanya. Dia tersenyum melihat pak Kardi. “Alif, ayo salim sama Kakek…” Ucap sang Bunda kepada bocah tersebut.

Dan dengan santunnya Sang bocah salim kepada Sang Kakek. Serta merta Pak Kardi mengangkat bocah tersebut dan menggendongnya. Walau usianya sudah begitu renta, tapi dia masih sanggup menggendong cucu semata wayangnya.

Pak Kardi memeluk bocah itu erat. Matanya berkaca-kaca. Ia begitu bahagia. Tidak pernah ia pikirkan sebelumnya ia akan hidup sampai melihat cucunya. Ia sudah begitu tua. Dan bila mengingat kehidupannya dahulu, tak pernah sama sekali ada dalam benaknya ia akan hidup selama ini.

Dan Kakek, Nenek, Ayah, Bunda dan Alif pun pagi itu saling bercengkrama. Terkadang tertawa, terkadang terdiam saat mengenang masa lalu. Saat Bunda Alif terpaksa tinggal ke negeri seberang saat anak seorang ulama melamarnya. Membuat Pak Kardi dan istrinya hanya tinggal berdua saja di dalam rumah kayu itu.

“Kakek, Bunda pernah cerita dulu Kakek adalah seorang pejuang…. Alif pengen dengar cerita dari kakek” ucap Alif polos.

Pak Kardi memangkunya dan mulailah cerita Pak Kardi bergulir. Seperti Saat Tengku menceritakan perjuangannya dahulu.

—————————————————–

“Pas Banget 500 kata” hahahhaa

21 thoughts on “Prompt#26: Pak Tua yang membaca Koran, “Pak Kardi”

  1. Udah kali kedua rasanya baca kisah tentang “ABRI”, wallahua’lam…

    Memang mereka kadang dilupakan oelh sejarah, hanya beberapa diantara mereka yang diingat. Mungkin berhak juga untuk menyandang “Pahlawan tak dikenal”🙂.

    Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka para pejuang kita.

  2. – “Dani, ayo salim sama Kakek…”

    – Dan Kakek, Nenek, Ayah, Bunda dan Alif pun pagi itu saling bercengkrama.

    Nama cucunya Alif, Dani, atau Dani Alif? Halah kepo. Haha

    Mendengar cerita perjuangan langsung dari orang-orang yang hidup di zaman dahulu memang nuansanya lebih asyik daripada baca buku sejarah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s