Posted in Uncategorized

My Close Friend

Saya pny seorang temen deket di kantor, bisa dikatakan sahabat.

Entah gmn ceritanya. kami deket aja gitu… *seperti layaknya saya dan sahabat2 saya yg laennya..

ehem, tentu si intovert ini harus dipancing2 dulu dalam bergaul.. hahaha..

dan ternyata aku dan si sobat ini cocok… wondering? yeah.. 😀

Karena sama2 single, kami suka banget jalan bareng. Nyoba2 kuliner bareng, atau temenin ke sana kemarih. Berduaan. Just the two of us. atau kadang ajak temen yg laen jg.

Sebenernya kami berempat, dalam kelompok yg bernama nyenyes.tapi berhubung dua nyenyes lainnya sudah pindah area, bahkan satu pindah pulau, jadi kami tinggal berdua.

Agama kami beda. tapi kami saling protect. Saling terbuka. Aku tau kapan jadwal dia ke gereja, dan dia tau kapan jadwal ngaji aku. Aku suka cerita tentang agamaku, dia juga. Tapi kami santai aja. saling menghormati. Tentu dengan tetap berpegang teguh dengan “Agamamu, agamamu, agamaku agamaku” Kami berhabluminannas dengan baik. Dan rasanya excited.

Aku belum pernah mempunyai temen deket yg berbeda agama sebelumnya. Tapi lewat dia aku nyaman aja. Setiap kali jalan bareng, selalu aja ada yang kami bicarain. kami ceritain. dari hal2 pribadi sampai ke hal2 yg umum. dia ku kenalin sama temen2ku di pengajian, dan kadang dia jg ajak aku ke rumah temennya. Kami sering kasih masukkan ttg hal2 pribadi dan hal2 kantor. Semua orang di kantor tau siapa kami, kalo kata temenku, kami ini besties.

Pernah jg aku anterin dia ke gereja, dan dia juga pernah nungguin aku solat di masjid.

Memang ada batasan2 dalam bergaul dengan berbeda agama. Aku gak pernah ucapin dia met natal dsb, aku yakin dia paham.

Terlepas dari itu, aku berdoa agar ia selalu dalam lindungan Alloh, Alloh kan maha pengasih dengan semua umat manusia. Aku berharap suatu hari nanti, Alloh akan memberinya hidayah akan manisnya Islam.. 🙂

*eh gak maksud masukkin dia ke Islam, aku yakin dia sdh dewasa dan bisa menentukan apa yang terbaik untuknya. tapi seperti persahabatan ku dengan sahabat2ku yg laen, alangkah indahnya jika kami bisa bersama2, tdk hanya di dunia fana ini.. aamiin… aamiin ya robbal alamiin….

Dia Aktif di salah satu organisasi kristen nasional, begitupun aku, bergabung bersama harakah islamiyah nasional.

yang membuat kami nyaman satu sama lain adalah keidealisan kami sih sbnrnya. Saya tau jalan pikiran dia dalam bekerja, dan dia tau jalan pikiran saya dalam bekerja. jadi ada banyak hal yg gak perlu dipertanyakan dan dibahas. Kasarnya udah ada pakemnya. Dia ingetin saya saat saya mulai jenuh dengan lingkungan di kantor, begitupun saya.

Walau bukan berarti pertemanan kami baik2 saja yah.. hahaha.. ada kalanya sih bete2an jg. Dia dgn darah bataknya, dan saya dgn darah sundanya. wajar. walo kami  berdua sama2 dibesarkan dalam kultur Ibu Kota Jakarta.

Saya berterima kasih kepada Alloh telah dikenalkan dengan dirinya, yang ada di saat jatuh bangun saya, terutama di tempat kerja saya sekarang dan diperantauan ini.. 🙂

Advertisements
Posted in Uncategorized

Prompt #27: Malam Pertama

Warna merah saga mulai menampakkan garisnya di sekitaran langit arah barat. Senja. Pertanda senja mulai tiba. Angin sudah ku rasakan semilir dingin. Nitrogen mulai memenuhi paru-paruku. Oksigen mulai terasa tipis. Dingin. Aku mengatur nafas.

Semakin erat aku mengosok2kan kedua tangan. Berusaha membuat kehangatan diantara gesekan-gesekan.

Ah, malam mulai terasa. Iya, Malam itu tiba juga. Akhir dari vegetasi, kini beranjak ke lautan pasir.

Bintang-bintang menjadi saksi, indah, tapi tidak bisa membantuku melewati malam ini.

Terseret-seret langkahku. Satu pijakan, dua kali terjatuh. Sial! gertukku dalam hati.

Ku lihat ke belakang, ahhh,, gelap sekali!

Ku lihat ke atas, tak kalah gelapnya.

Ini malam yang gila. benar-benar gila.

“teruslah berpijak, yakinkan langkah kakimu…” tiba-tiba sebuah suara datang. Aku melongok ke kanan dan ke kiri. Suara siapa itu? aku mengernyitkan dahi.

“Bukan seberapa jauh langkahmu, tapi seberapa yakin langkahmu..”

“Bukan sampai atau tidak sampainya tujuan, tapi seberapa kamu berusaha mencapai tujuan”

Suara itu terus bergelam, di antara sayap-sayap awan putih dan langit biru. yang sekarang gelap, tentu saja.

Ah, aku tidak mampu!

Aku terdiam. Menginjakkan kaki keras-keras dan menancapkan tracking poll dalam-dalam ke dalam pasir. Menatam tajam ke atas. Memandang dengan cermat.

Ini malam pertamaku, di puncak semeru, Mahameru.

Posted in Uncategorized

Prompt#26: Pak Tua yang membaca Koran, “Pak Kardi”

Prompt #26
Prompt #26

Pagi itu Pak Kardi sangat sumringah. Disemirnya sepatu pantopel butut yang sudah hampir jebol itu sampai mengkilat. Disiapkan baju seragam warna hijau sewaktu ia masih bekerja sebagai tentara ABRI dahulu. Ia pernah ditempatkan di barisan pembebasan Timor Timur atau sekarang dinamakan Timor Leste. Dia merasakan perihnya, dan lebih perih lagi saat mengetahui Timor Timur akhirnya lepas juga dari NKRI. Teringat semua perjuangan dahulu ia dan kawannya. Saat nyawa menjadi begitu murah yang kapan saja bisa terhempas.

Tapi Pak Kardi memakai Baju loreng itu bukan karena ingin mengenang masa perjuangannya dahulu. Bagi ia, itu semua hanya masa lalu. Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Saat ia mengabdi, tidak hanya untuk negerinya, tapi untuk agamanya. Bukankah membebaskan tanah kelahiran dari penjajahan adalah bentuk dari jihad fii sabilillah seperti yang dulu sering Tengku ajarkan padanya sewaktu kecil? Ia tersenyum mengingat almarhum ayahnya yang juga seorang ulama di serambi mekkah. Dari ayahnyalah ia mewariskan semangat pejuang. Membela yang haq dari yang bathil. Hingga akhirnya ia memutuskan menjadi tentara yang kala itu bernama ABRI.

“Pak, sudah siap belum?” tanya Nyonya Kardi yang juga tidak kalah tuanya dengan Sang Suami, membuyarkan lamunan Pak Kardi.

“Iya, sudah… Eneng udah belum?” tanya balik Pak Kardi yang memanggil istrinya dengan panggilan, ‘Eneng’ suatu fenomena yang sangat romantis untuk usia pernikahan yang sudah melewati angka emasnya.

“Eneng juga sudah… tadi Tiara telepon, sebentar lagi sampai… sudah sampai tol pasteur katanya” Ucap sang istri sambil menghampiri Pak Kardi yang sedang menyeruput teh hangat di teras sambil membaca koran, seperti yang dilakukannya setiap pagi. Bedanya kali ini ia mengenakan seragam lengkap dan sepatu pantopel bututnya. Menanti kehadiran Anak, menantu dan cucunya yang belum pernah ditemuinya sama sekali. Pak Kardi gugup, tentu saja. Dia akan bertemu dengan cucunya yang sudah berusia 4 tahun.

Sebuah mobil carry warna biru terlihat berusaha masuk ke dalam perkarangan rumah Pak Kardi. Ah itu dia, ucap Pak Kardi dalam hati. Jantungnya semakin tidak karuan, seperti sebuah orkestra yang tidak memiliki pembimbing.

Seorang bocah kecil turun didampingi oleh kedua orang tuanya. Dia tersenyum melihat pak Kardi. “Alif, ayo salim sama Kakek…” Ucap sang Bunda kepada bocah tersebut.

Dan dengan santunnya Sang bocah salim kepada Sang Kakek. Serta merta Pak Kardi mengangkat bocah tersebut dan menggendongnya. Walau usianya sudah begitu renta, tapi dia masih sanggup menggendong cucu semata wayangnya.

Pak Kardi memeluk bocah itu erat. Matanya berkaca-kaca. Ia begitu bahagia. Tidak pernah ia pikirkan sebelumnya ia akan hidup sampai melihat cucunya. Ia sudah begitu tua. Dan bila mengingat kehidupannya dahulu, tak pernah sama sekali ada dalam benaknya ia akan hidup selama ini.

Dan Kakek, Nenek, Ayah, Bunda dan Alif pun pagi itu saling bercengkrama. Terkadang tertawa, terkadang terdiam saat mengenang masa lalu. Saat Bunda Alif terpaksa tinggal ke negeri seberang saat anak seorang ulama melamarnya. Membuat Pak Kardi dan istrinya hanya tinggal berdua saja di dalam rumah kayu itu.

“Kakek, Bunda pernah cerita dulu Kakek adalah seorang pejuang…. Alif pengen dengar cerita dari kakek” ucap Alif polos.

Pak Kardi memangkunya dan mulailah cerita Pak Kardi bergulir. Seperti Saat Tengku menceritakan perjuangannya dahulu.

—————————————————–

“Pas Banget 500 kata” hahahhaa

Posted in Uncategorized

GHUROBA

Oleh = Ustadz Farid Nu’man

Mukadimah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba).” (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah, juga dari Ibnu Umar namun tanpa kalimat “Beruntunglah orang-orang asing itu”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan Anas. Imam Baihaqy dari Katsir bin Abdullah bin Auf, dari Ayahnya dari kakeknya. Imam Thabrani dari Salman, Sahl bin Saad as Saidi, dan Ibnu Abbas ridhwanullah ‘alaihim ajma’in)

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang yang asing.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Thabrani dari Sahl radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya, “Siapakah Ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak.”

Dalam riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maksud ghuraba adalah An Nuzza’ minal Qaba-il (Orang-orang yang memutuskan diri dari golongannya). Maksudnya tidak fanatik dengan golongannya.

Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi yang lain , maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.”

Syaikh Saad al Ghamidi seorang Ikhwan, munsyid (penasyid), hafizh dan qari terkenal yang murattalnya telah menyebar di negeri-negeri muslim, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktifis harakah pada tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantunkan oleh Syaikh al Ghamidi sendiri dalam album Ad Damaam 2:

Bukanlah orang asing itu yang berpisah dari negerinya. Tetapi orang asing itu adalah orang yang melihat manusia di sekitarnya bermain-main, ia membangunkan manusia sekitarnya yang tertidur, dan ia di atas jalan kebaikan ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan. Benarlah perkataan penyair, ketika ia berkata:

Seorang sahabat berkata, engkau terlihat asing

Di antara manusia, engkau tidak memiliki kekasih

Aku berkata: sekali-kali tidak, bahkan manusia itulah yang terasing

Aku berada pada duniaNya dan mendapat petunjuk di atas jalanNya

Demikianlah orang terasing. Orang terasing di sisi manusia ia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka. Demikian Syaikh al Ghamidi

Gharib Bukan ‘Uzlah

Ada perbedaan mendasar antara غريب(gharib – terasing) dengan عزلة (‘uzlah – mengasingkan diri). Gharib dalam konteks ini adalah orang yang terasing karena masyarakatnya yang menganggapnya asing, walau ia hidup di tengah masyarakat dan bagian dari mereka, dan ia tidak menjauh dari masyarakat. Sedangkan uzlah adalah orang yang memisahkan diri (i’tizal) dari masyarakat, ia sendiri yang lari dari masyarakat, bukan masyarakat yang menjauh darinya.

Ya, jadilah ghuraba (orang-orang terasing), bukan karena kita pendatang baru di kampung halaman, melainkan karena kita memegang teguh prinsip-prinsip agama, di tengah masyarakat yang telah melupakan agama. Manusia yang memegang teguh sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tengah masyarakat yang tidak kenal siapa sosok nabinya, bahkan istihza (memperolok-olok) sunahnya. Memegang teguh akhlak dan adab Islam, di tengah masyarakat yang terpukau dengan akhlak dan adab Barat yang sekuler dan liberal, atau akhlak dan adab timur yang sinkretisme. Memegang teguh solusi Islam di tengah masyarakat yang lebih mempercayai solusi Barat atau sebaliknya, ucapan para dukun dan penyihir timur. Memegang teguh fikrah Islam di tengah masyarakat yang terpesona fikrah filsafat. Kita terasing di kampung sendiri karena ini, terasing di kantor karena ini, terasing di parlemen karena ini, terasing di kampus karena ini, bahkan terasing di keluarga sendiri karena ini; karena apa? karena Islam yang kita bawa.

Bukan karena kita lari dari mereka. Bukan pula karena kita tidak mengenalkan diri. Mereka telah mengenal kita dan keluarga kita dengan baik, telah mengenal aqidah kita, keimanan, fikrah, akhlak dan adab, serta solusi yang kita bawa, justru karena itu kita dianggap asing. Apa yang kita bawa dan tanamkan, dianggapnya bertentangan dengan kebiasaan, adat, tradisi, kepentingan, dan hawa nafsu mereka. Terasing bukan karena kita menjauh, terasing karena nilai kebaikan yang kita bawa telah menjadi hal yang aneh dan ‘baru’ bagi mereka karena kemalasan mereka mengkaji agama, atau sikap apatis (cuek) dan apriori terhadap agama. Lebih dari itu, apa yang kita bawa menjadi ancaman bagi keadaan status quo mereka.

Kalau kita telah mengalami ini, di mana saja kita beraktifitas da’wah, lalu kita bersabar atas segala macam cobaan dan fitnah manusia, maka mudah-mudahan kita termasuk golongan ghuraba, bukan golongan yang kabur dari keadaan.

Berbaur Lebih Utama Dibanding Uzlah

Imam an Nawawi dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhus Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin, membuat bab yang sangat panjang, Keutamaan berbaur dengan manusia dan menghadiri perkumpulan dan jamaah mereka, menyaksikan kebaikan dan majlis dzikir bersama mereka, menjenguk orang sakit, dan mengurus jenazah mereka. Memenuhi kebutuhan mereka, membimbing kebodohan mereka, dan lain-lain berupa kemaslahatan bagi mereka, bagi siapa saja yang mampu untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan menahan dirinya untuk menyakiti, serta bersabar ketika disakiti.

Imam an Nawawi berkata, “Ketahuilah, bergaul dengan manusia dengan cara seperti yang saya sebutkan, adalah jalan yang dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seluruh Nabi Shalawatullah qwa Salamuhu ‘Alaihim, demikian pula yang ditempuh oleh Khulafa’ur Rasyidin, dan orang-orang setelah mereka dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang setelah mereka dari kalangan ulama Islam dan orang-orang pilihannya. Inilah madzhab kebanyakan dari tabi’in dan orang-orang setelah mereka, ini pula pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad, dan kebanyakan fuqaha radhiallahu ‘anhum ajma’in. Allah Ta’ala berfirman: “Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan” (QS. Al Maidah: 2) Ayat-ayat dengan makna seperti yang saya sebutkan sangat banyak dan telah diketahui. (Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, hal. 182. tahqiq oleh Muhammad Ishamuddin Amin. Maktabatul Iman, Al Manshurah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka. “(HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)

Keutamaan bergaul dengan masyarakat merupakan pilihan hidup dari para Imam, ini pula pandangan yang dianut oleh Said bin al Musayyab, Qadhi Syuraih, Amr bin asy Sya’bi, Abdullah bin Mubarak, dan lain-lain. Inilah pilihan para ulama masa kini, padahal zaman semakin rusak, namun mereka turun gunung untuk ikut memperbaiki keadaan. Bukan justru lari dari kenyataan.

Demikianlah, sifat ghuraba tidaklah menghalangi kita untuk tetap bergaul dan berda’wah di tengah masyarakat, dan bertahan dari fitnah dan kerusakan mereka, serta menahan diri untuk menyakiti mereka. Dan, makna ghuraba menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Sahl bin Saad as Saidi, adalah “Orang-orang yang melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang rusak.”

Kapan ‘Uzlah lebih Utama?

Uzlah bisa lebih utama di banding bergaul dengan masyarakat jika kerusakan telah merata dan celah untuk melakukan perbaikan sangat sempit dan sulit. Justru yang terjadi adalah para da’i itu yang tertimpa fitnah, bencana, dan kerusakan. Sedangkan para da’i pun tidak mampu membendung itu semua. Inilah pandangan yang diikuti mayoritas ahli zuhud seperti Ibrahim bin Ad-ham, Sufyan ats Tsauri, Daud ath Tha’iy, Fudhail bin ‘Iyyadh, Bisyr al Hafy, dan lain-lain. Imam an Nawawi pun membuat bab dalam Riyadhus Shalihin-nya berjudul, Dianjurkannya Uzlah ketika zaman telah rusak atau takut tertimpa fitnah dunia, hal-hal haram, syubhat, dan lain-lain (Ibid, hal. 181)

Hujjah (argumentasi) kelompok ini adalah Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersegeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz Dzariyat: 50)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (hati), dan tersembunyi.” (HR. Muslim)

Dari Abu Said al Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, bertanyalah seorang laki-laki, ‘Manusia apa yang paling utama ya Rasulullah?’, Beliau menjawab, “Mu’min yang berjihad dengan dirinya dan hartanya.” Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang uzlah menuju celah bukit lalu ia menyembah Rabbnya.” Dalam riwayat lain, “Ia meninggalkan manusia karena keburukannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Umar radhiallahu ;anhu berkata, “Ambil-lah bagian untuk kalian ber- ‘uzlah.”

Daud ath Tha’iy rahimahullah berkata, “Hindarilah manusia sebagaimana engkau lari dari singa.”

Saad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku ingin andai saja antara diriku dan manusia ada sebuah pintu besi, sehingga tak seorang pun berbicara denganku dan aku pun tidak bicara dengannya, hingga aku berjumpa dengan Allah.”

Manfaat Bergaul Dengan Manusia

Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan beberapa kentungan bergaul dengan manusia:

1. Belajar dan mengajar

Ar Rubayyi bin Khaitsam berkata, “Belajarlah lalu uzlah-lah, karena ilmu itu merupakan dasar agama. Tidak ada kebaikan dalam uzlahnya orang-orang awam.”

Seorang ulama ditanya, “Apa pendapatmu tentang uzlahnya orang bodoh?”

Dia menjawab, “Itu sama dengan kehancuran dan bencana.”

Orang itubertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan uzlahnya orang berilmu?”

Ulama tersebut menjawab, “Engkau tidak perlu peduli dengannya. Biarkan saja uzlahnya itu. Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan kenistaannya. Dia menolak minum air segar, hanya minum dari daun-daun kering hingga berjumpa dengan Allah.”

Sedangkan mengajarkan ilmu adalah salah satu amal paling utama dalam Islam, sebagaimana mencari ilmu.

2. Mengambil dan Memberi Manfaat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. “ (HR. Muslim)

Hadfits ini tidak bisa kita amalkan tanpa bergaul dengan manusia, dan Rasulullah sendiri menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (anfa’uhum linnas).

3. Melatih diri sendiri dan membimbing orang lain

Bergaul dengan manusia merupakan sarana berlatih kesabaran, menata jiwa dan emosi, serta menundukan hawa nafsu, karena ia harus menghadapi berbagai karakter manusia. Adapun membimbing manusia sama halnya dengan mengajarkan ilmu kepada mereka, dengan segala macam bentuk dan kendalanya.

4. Mendapat pahala dan Membuat orang lain mendapat pahala

Bergaul dengan manusia membuat anda dapat saling mengunjungi, menjenguk orang sakit, mengurus jenazah, memenuhi kebutuhan, mengundang jamuan makan atau mendatangi undangan. Ini semua tentu tidak syak lagi adalah ladang amal shalih yang memiliki ganjaran yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla bagi pelakunya atau orang lain.

5. Tawadhu

Sifat ini tidak akan muncul jika seorang menyendiri. Bisa jadi uzlah dilakukan karena kesombongan, merasa bersih, dan suci, sedangkan orang lain kotor dan rusak. Itulah yang membuatnya hilang ketawadhuan dan husnuzh zhan dengan manusia.

Terakhir, Imam Asy Syafi’i radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mengisolir diri dari manusia bisa mendatangkan permusuhan dan membuka diri kepada manusia bisa mendatangkan keburukan. Tempatkan dirimu di antara mengisolir dan membuka diri. Siapa yang mencari selainnya maka dia tidak tepat, dia hanya mau tahu terhadfap dirinya semdiri dan dia tidak layak membuat ketetapan untuk orang lain.”

Wallahu A’lam walillahil ‘Izzah

Nasheed Ghuroba.
Posted in Uncategorized

5R, konsep simpel dan keren.

Tentunya kita udah byk banget denger tentang yg satu ini, 5R yang disadur dari 5S nya punya orang Jepang.

Kalau versi indonesianya, 5R itu adalah:

1. Ringkas

2. Rapi

3. Resik

4. Rawat

5. Rajin

Sepele banget kan yang namanya membuang barang2 yg gak perlu? sepele banget kan meletakkan kembali barang yg telah digunakan kembali ke tempatnya??? yap, semua ini adalah masalah sepele, yang sayangnya sering disepele2ain… 🙂
Ini semua berangkat dari sini. Dan karena 5R menjadi bagian dari O.P.I, jadilah kami berjuang untuk melaksanakan OPI ini.

Dan saya merasa, alangkah ironinya, kalau saya sbg anggota O.P.I pada workstream MI, kalau saya sendiri tidak melaksanakan 5R pada diri saya sendiri dulu, baru kemudian saya bisa ceritakan / menginstruksikan pada orang lain? *terbayang rumah saya yang disapu dan pel cuma seminggu sekali, meja kerja yang sering bgt berantakannya dibanding rapihnya.*

Well, Oke, saya ssenengggg bgt mengetahui konsep 5R, yang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Selain dari diklat, saya juga rajin browsing di youtube dan artikel2 di internet.

Pertama, Ringkas.

Saya harus membuang barang2 yang sudah tidak berfungsi. memisahkan barang2 yang  masih berfungsi sesuai kategorinya. dan menyimpannya atau memberikannya pada orang laen kalau emang udah gak diperlukan.  Ini saya lakukan pada sepatu dan baju saya. Alhamdulillah udah berhasil memisahkan beberapa pasang sepatu dan beberapa untelan baju untuk disumbangin… 🙂

Oiya, untuk piring juga perlu sih. Piring saya banyak, tapi rak nya kurang memadai. jadi membeli rak piring masuk ke dalam check list saya. sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan rak piring yang sesuai harapan saya. Anyway, saya suka style minimalis.

Kedua, Rapi

Barang2 yang saya putuskan untuk stay di rumah saya, harus saya susun rapi. Pada tempatnya. sesuai kategori. dan setiap kali dipakai harus dikembalikan ke tempatnya semula. ini mungkin yang agak sulit. walau saya suka style minimalis. saya jg pecinta style amerika. filosofi saya, semakin berantakan, semakin baik.. 🙂 hehehehe. Saya suka gak betah kalo terlalu rapi. Akhirnya, untuk supaya saya gak terlalu menekan diri jg, style rapi saya terapkan untuk teras, ruang tamu, ruang nonton, ruang kamar tamu dan dapur. kamar saya??? tetap american style.. 🙂 saya suka meletakkan buku2 yang sedang saya baca tersebar di atas kasur… hihihi…

Untuk buku2 yang tidak sedang saya baca, saya membeli 2 rak gantung yang nempel di dinding. saya sukaaaaa banget. minimalis. keren. dan pastinya MURAH. saya beli di informa.

Ketiga, Resik

Ini semua sudah tau, berhubungan dengan sapu, kain pel, kain pembersih kaca dan sebagainya. selama ini saya menyapu dan mengepel rumah seminggu sekali, hanya di hari sabtu. dan ini harus diubah bukan…??? awalnya saya mencanangkan setiap hari. tapi saya agak kesulitan. dengan hobi begadang yang belakangan ini semakin menjadi…. saya suka grasak-grusuk di pagi hari. jadi saya memutuskan menyapu dan mengepel 2-3 kali dalam seminggu. Membersihkan kaca rumah dan sawang2 seminggu sekali.

Keempat dan kelima: rawat dan rajin

Ini intinya dalah istiqomah. bagaimana saya bisa mempertahankan ketiga step yang sebelumnya.

Dan ternyata, efeknya luar biasa. Saya jadi semakin betah di rumah… sangat. Saya jadi freak 5R. setiap kali liat kotor atau berantakan dikit, langsung ambil kain pel atau sapu…. SEMOGA SIH gak freak2 banget dan masih dalam tahap wajar.

Hal ini saya lakukan juga di kantor…

Gudang atau biasa saya sebut bengkel favourite saya dimana saya suka ngotak-ngatik dan ngebongkar radio, sudah saya sulap secara ajaib. 3 buah Meja komputer saya ganti menjadi 2 rak dan sebuah meja. Rak juga saya beli di informa, dengan 4 tingkat. Untuk rak pertama:

Tingkat pertama untuk segala macem kabel, entah itu kabel repeater, base, atau kabel LAN / kabel power.

Tingkat kedua untuk relay dan DS Switch

Tingkat ketiga untuk Radio Komunikasi dan Toolbox

Tingkat keempat untuk Laporan Bulanan Yantek yang jumlahnya selalu LUMAYAN.

Tingkat kelima untuk repeater.

Untuk Rak Kedua:

Tingkat pertama untuk segala macam antena

Tingkat kedua untuk ISR dan Logsheet UPD

Tingkat ketiga untuk Stock kertas A4

Tingkat keempat untuk macem2.

Tingkat kelima untuk panel genset dsb

Meja komputer saya pertahankan untuk setting radio.

So far, saya puas banget. Saya juga telah memasang label untuk setiap tingkat. Jadi harapannya Ketiga tahapan bisa selalu dilaksanakan dengan baik dan bengkel saya selalu ciaaamiiikkkk… 🙂

5R: Konsep yang simpel dan keren.

Maaf ya gak ada potonya. mungkin menyusul. tapi gak janji sih.. 🙂