Posted in Uncategorized

serigala

“Serigala…hoaammm”

Kamu tau apa itu serigala? oh pasti tau dong… serigala itu adalah hewan buas yang memiliki moncong yang panjang dan dia makannya daging, hewan karnivora.

serigala itu kalau sudah memangsa mangsanya benar2 tidak kenal ampun dan dibuat habis2an. matanya tajam, hanya tertuju pada mangsanya, menggunakan nafsu dan insting kebinatangannya yg selalu ingin terpuaskan… tanpa menggunakan perasaan atau akal.

lalu bagaimana kalau misalnya ada manusia yang seperti serigala?

naudzubillahi min dzalik

Advertisements
Posted in Uncategorized

Maher Zain’s Concert

Tanggal 09 Oktober 2011 kemarin aku memutuskan untuk nonton konsernya Maher Zain diIstora Senayan, Jakarta.

Kebetulan saat itu aku memang memutuskan untuk mudik karena ada permasalahan keluarga yang harus dibicarakan seluruh anggota keluarga.

Tiketnya aku beli secara online di rajakarcis.com via debit mandiri. Aku beli tiket yang paling murah, festival 2 harganya 300 ribu plus PPN 10%.

Aku beli dua tiket, rencananya satunya lagi buat temen baikku yang bulan ini ultah, tapi ternyata dia lagi prajab. Mau ajak adikku eh ternyata malam itu dia masih di kantor. Sempet bingung jg mau ajak siapa lagi… Mau ajak anak 7ska1 klo cuma satu tiket gak enak sama yg lain… dan baru pas detik2 terakhir aku ngajakin senior Kampusku dulu, Zulaikah Solehah.

Kalo beli tiket secara online, setelah proses pembayaran dikonfirm, (2 hari) kita dikirimi voucher (bukan tiket yaaa..) via imel yg kemudian harus ditukar dengan tiket di kantor rajakarcis.com. Kantornya letaknya di Depan Pasaraya Manggarai (tepat di depan Busway / Terminal Manggarai).

Setelah menukarkan vouchernya (dimana aku benar2 penuh berjuangan menemukan kantornya si rajakarcis.com), aku yang gampang kecapean akhir-akhir ini segera ke kostan mbak Zule di sekitar semanggi dan numpang bobo sampe jam 5an sore.. hehehe. Badanku lemes…

Berangkat ke Istora Senayan pakai TaksiKu (15 ribu) setelah maghrib, saat itu jakarta sedang diguyur hujan derasss banget. Sampai di istora, orang2 yang mau nonton sudah bergerombolan di depan pintu masuk. Di sini sempat ada kericuhan. Promotornya sepertinya memang kurang pengalaman dan kurang profesional, karena kami dibiarkan kedinginan di luar, sedangkan penonton banyak yang terdiri dari anak2 dan usia manula. Dan yang parahnya lagi menurut pada penonton yang lain, katanya pas ada artis diijinin masuk, tapi klo orang biasa gak dibolehin masuk. hmmppphh… hari gini!!

Setelah main dorong2an dengan petugas securitynya, kita baru bisa masuk. tapi itupun baru di lobi. anehnya, pintu masuknya pun tidak ada tulisan2nya. entah itu VIP, Tribun dan festival. Penonton dibikin bingung luar biasa deh. Apalagi, seperti aku, banyak di antara penonton yg memang baru kali ini nonton semacam konser. Berbeda dengan yang tadi, sekarang penonton dibiarkan kepanasan di dalam lobi. Ratusan lho…

Dan lagi2 terjadi aksi dorong mendorong dengan petugas dan akhirnya pun kita berhasil masuk ke dalam istora. Di sini lagi2 tidak ada tulisan mana yang untuk VIP, tribun dan festival. bahkan kalau mau currang, petugas pun tidak bisa membedakan mana yang tidak punya tiket. Karena memang tidak ada pemeriksaan tiket sama sekali. Aku pun sempet bersitegang dengan panitia, karena dia telah bertindak sangattttttttttttt tidak profesional. duh ya Allah.. benar2 pengalaman yang gak ngenakkin.

Karena tidak ada pemeriksaan tiket dan tidak ada tulisan pembeda antara VIP, tribun dan festival, semua orang bisa duduk seeenaknya dimanapun., Termasuk aku, walau dapat tiketnya festival 2, aku dapat duduk di VIP 1. bayangpun!!! pewe iya. tapi aku gak nyaman. apalagi setelah para ibu2 yg duduk di belakangku bilang, “Kalau gini mah, ngapain gue beli tiket yang 880 ribu, semua orang duduknya terserah” ahahhaha…

Sekitar jam 8, setelah semua dekor selesai, aku ngajakin Mbak Zule berdiri di festival. Jadi kami pas berada di pagar lapis 1.hihihi. biar lebih puas dan lebihkerasa nontonnya gituuuu… 🙂

Dan selama 2 jam, Faly “Padi”, Maher Zain dan Irfan Makki benar2 memanjakan kuping kami. Menurut aku pribadi, konsernya sukses!!! dahsyat! Subhanallah. Kami dibuatnya sholawatan dan berdoa bersama.

Sejujurnya aku bukan fans beratnya Maher Zain, jadi aku gak gitu tau lagu2nya. Nah pas konser kemarin itu, setiap ganti lagu, aku bertanya para orang yang berdiri di sebelah aku, kemudian aku langsung search lirik lagu tersebut di google. hehehehe… jadi aku tau si Maher Zain ini lagi nyanyi apa dan liriknya tentang apa.. 😀

Alhamdulillah, selesai acara, hujannya jg selesai… 🙂

Kali ini kami pulang naek Kopala P-9, cuma 2000-an. Dan di dekat Kos nya Mbak Zule, aku dijemput ama adekku deh… 🙂

Aku paling suka lagu ini:

Maher Zain feat Irfan Makki – Allahi Allah Kiya Karo (pake bahasa Urdu plus English)

dan

Maher Zain feat Fadly “Padi” – Insya Allah

dan satu lagi:

Maher Zain – Barakallahu lakum

Posted in Uncategorized

Menunda-nunda waktu

Banyak orang ingin tahu mengapa semakin banyak orang dari bangsa ini yang senang menundanunda pekerjaan. Jalan-jalan berlubang di kampung tempat tinggal saya, misalnya, kalau belum menjadi kubangan dalam belum ada perbaikan.

Kalaupun diperbaiki,kami semua harus menunggu sampai akhir tahun. Alhamdulillah, akhirnya Oktober ini lubang-lubang dalam itu sudah rata. Di Ambon, beberapa hari lalu seorang bapak menangis bercampur marah karena petugas PLN terlambat datang mengurus jaringan listrik yang bocor. Seorang anak kecil menjadi korban, tersetrum listrik dari air di bak mandi.

Di Medan, puluhan ibu-ibu mengamuk kepada petugas sebuah airlines di bandara, yang terkesan menggampangkan dan tidak cepat menangani keluarga mereka yang menumpang pesawat yang jatuh di lereng Pegunungan Bahorok. Media massa memberitakan, kalau cepat ditangani,kemungkinan besar beberapa korban masih hidup. Akhirnya keberangan publik semakin jelas menyaksikan lambatnya penyerapan APBN di hampir semua kementerian Republik Indonesia.

Seorang pejabat di Kementerian Keuangan pernah mengatakan, hingga akhir Februari lalu, anggaran pada 10 kementerian baru bisa menyerap 5%. Ini berarti mereka tidak langsung bekerja begitu DIPA diterima bulan Januari.Akibatnya,wajar kalau hingga Oktober tahun ini daya serap anggaran masih berkisar 50%.Ada yang bilang sudah sebesar 70%,tetapi banyak orang yang meragukannya.

Tapi,syukurlah,Anda hidup di Negeri Sangkuriang. Bahkan gedung-gedung olahraga yang sudah lama dianggarkan untuk pergelaran kompetisi SEA Games yang mencemaskan banyak pihak diramalkan akan jadi juga pada detik-detik terakhir. Selain Negeri Sangkuriang, Indonesia juga dikenal dengan tradisi ketok magic. Jangan tanya bagaimana caranya,pokoknya percaya saja.

Semua akan beres,selesai pada waktunya. Namun jangan tanya kualitasnya, apalagi check & balancenya. Sudah hampir pasti kerja seperti itu banyak masalahnya. Sepertinya ada masalah besar dalam business process di negeri ini, tetapi entah mengapa,walaupun sudah diperbaiki, tetap saja banyak masalahnya. Kalau prosesnya tidak tepat,apa yang bisa diharapkan pada hasilnya? Good process–great result! Nah kalau prosesnya saja sembarangan, bagaimana output-nya?

Prokrastinasi
Karena hal serupa terjadi berulang-ulang, sudah pasti pemerintah tahu apa yang menyebabkannya. Dulu, anggaran pemerintah baru bisa cair setelah bulan Juni. Perlahan- lahan diperbaiki menjadi bulan Maret dan sekarang sudah bisa dicairkan sejak awal tahun.Tapi masalahnya, mengapa bagian terbesar anggaran ini tetap dihabiskan setelah September? Bukankah ini berarti ”pikiran” aparat birokrasi belum berubah?

Sikap mental yang sering menunda-nunda itu dalam ilmu perilaku dikenal sebagai procrastinator (prokrastinator). Seseorang yang melakukan procrastination (prokrastinasi) punya tendensi mengganti pekerjaan-pekerjaan high priority dengan pekerjaanpekerjaan low priority. Orang-orang seperti ini biasanya pencemas yang senang menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinator mengatakan mereka bisa bekerja bagus dalam suasana di bawah tekanan (under pressure).

Nahdalam birokrasi yang lembek dan lamban,mereka mendapatkan pembenaran. Tapi jangan cepat-cepat percaya bahwa kerja seperti itu bagus. Ada ilmu yang mengatakan sebenarnya prokrastinasi adalah bawaan lahir (human nature) sehingga kalau tidak dibentuk,semua manusia akan menunda-nunda pekerjaannya. A sense of timelessness ada dalam masyarakat suku-suku tertentu, bahkan berlaku sampai sekarang.

Bahkan orang-orang Barat memberi label prokrastinasi kepada orang-orang Afrika sebagai African Time.Di Benua Afrika kebiasaan buruk tidak menepati waktu antara lain dibentuk oleh orientasi waktu polikronik, yaitu kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus. Adapun di Barat, orang-orang terbiasa menganut budaya monokronik, satu program sampai tuntas.

Lantas dari mana sumber etika ketepatan waktu? Para ahli percaya, etika ketepatan waktu berasal dari seorang ulama Yahudi bernama Hilec (100 BCE) yang mengajukan pertanyaan seperti ini: ”Jika saya bukan untuk diri saya, siapa yang akan melakukannya bagi saya? Tapi jika saya hanya untuk diri saya saja, siapakah saya? Dan bila tidak sekarang,kapan?” Prokrastinasi atau menunda- nunda pekerjaan, tidak taat pada waktu, dianggap sebagai perilaku yang tidak etis, selfish, dan merugikan orang lain.

Di Barat,berlaku pepatah, ”If not now,when?”Kalau bukan sekarang, kapan? Pepatah ini membuat banyak pendidikan kepemimpinan mengarahkan calon-calon pemimpin untuk tidak menunda-nunda masalah. Masalah harus cepat didiskusikan, direncanakan,dan diatasi. Dalam ilmu manajemen dikenal istilah time management yang marak diberikan dalam berbagai workshop di sekitar era 1980-an. Bukan hanya sikap mental yang mereka bentuk, melainkan juga alat-alat pencatat (agenda kerja) banyak.

Stephen Covey bahkan membagi orientasi waktu manusia ke dalam empat kategori. Generasi pertama adalah manusia denganalatbantuwaktu( jam) yang berfungsi memberi peringatan (alarmatauwake up call). Generasi kedua adalah time management dengan perencanaan dan kalender.Pada generasi ketiga, dimasukkan unsur perilaku seperti bekerja dengan prioritas, menjabarkan prinsip-prinsip pareto (bahwa 80% hasil yang didapat ternyata banyak diperoleh dari 20% pekerjaan yang penting), dan mengedepankan tata nilai.

Namun orientasi waktu generasi keempat sudah dikaitkan dengan tata kelola dengan menggunakan berbagai peralatan teknologi. Waktu berjalan, para ahli telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang unggul bukanlah bangsa yang mengorbankan waktu dan bekerja tanpa memikirkan prioritas. Semakin sering suatu bangsa mengabaikan timeline, seperti yang Anda lihat, semakin fragile (mudah rusak, berisiko gagal) bangsa itu.

Punctuality Nite
Di Afrika, kebiasaan menunda- nunda waktu dirasakan banyak pebisnis sebagai penyakit menular yang sama bahayanya dengan HIV-AIDS. Maka pada Oktober empat tahun yang silam para pebisnis di Republik Pantai Gading bekerja sama dengan pemerintah menyelenggarakan pesta budaya untuk memerangi budaya jam Afrika. Mereka menggelar kompetisi ketepatan waktu berhadiah sebuah vila seharga Rp1 miliar.

Menurut Reuters, kompetisi itu dilakukan untuk membangun kesadaran tentang besarnya kerugian yang dialami bangsa dari perilaku bekerja tanpa memperkirakan waktu. Kompetisi itu ditutup dengan malam kesenian disebut punctuality night (malam ketepatan waktu) dengan subtema: African time is killing Africa–let’s fight it! Saya berpikir,

pemerintah yang baik tidak hanya peduli membangun bangsanya dengan hanya membangun infrastruktur fisik berupa jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan gedung-gedung bertingkat saja. Pemerintah yang hebat perlu membangun budaya, yaitu budaya respek.Ini adalah budaya yang hampir hilang dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang menghargai waktu adalah orang-orang yang memiliki budaya respek.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/435517/34/
Mirror
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=121&Itemid=57
Unlike · · Share