Posted in Uncategorized

ngegembel = pasrah

Acara ngegembel kali ini adalah kedua kalinya untukku… pertama waktu tahun 2005, ngegembel bareng RASIS Semarang-Jogja, bertiga tanpa persiapan apa2 dan aku hanya jadi korban mereka… heuheuheu…

Dan Di akhir tahun 2009 ini, ide ngegembel muncul karena ada libur 4 hari, yaitu tgl 24-27… OMG…. panjang bener yak… dan aku males super males buat balik ke jawa…. a.k.a my hometown. Thinking punya thinking, Uni za ngajakin aku ke padang…. Sementara temenku ngajakin mudik bareng ke Jawa.

Aku memutuskan untuk ikut ke padang aja… hihihi… No reason. I just wanna feel another air of this earth… mgkn lagi jenuh jg kali yak…

Dan tiba2 rencana semakin keren karena banyak diskusi sama Elly, the queen of bekpeker *as long as I know. Dia ngasih banyak masukan tempat2 yg kudu ku kunjungi selama di padang… here and that… dan aku jg konsultasi ke seorang temen yg juga seniorku di kampus, yg saat itu di Padang.

Cuaca gak gitu bagus di tanggal 23 Desember 2009, bahkan padang sempat kena gempa klo berdasarkan data di USGS.GOV adalah sebesar 5,9 Sr. Ragu?? pasti… hehehe.. Seharusnya aku berangkat tgl 23 sore itu, tapi karena berkecamuk berbagai pikiran aneh dan ragu, aku pun mencoba menenangkan diri. Berpikir jernih. Kalo memang yang aku takuti adalah kematian, kenapa aku harus takut, bukankah kematian bisa terjadi dimanapun. Lagipula uni za dah kasih tau klo Padang aman2 aja. Sore itu akhirnya aku memesan travel menuju muara bungo, tempat uni za sekarang. Ternyata semua travel penuh. Akupun memesan untuk keesokan harinya, tgl 24 pagi.

Aku cm bawa beberapa kaos dan beberapa celana lapangan. Karena semua bajuku memang belom pada kering, termasuk semua rok. Hujan begitu rajin membasahi jambi beberapa hari terakhir. Aku pakai sendal jepit yang berbalutkan kaos kaki. Hmm.. keknya tampangku cukup meyakinkan untuk jadi backpacker… heuheuheu…

Travel menjemputku pukul 07.30 WIB, dan aku sampai di Muara Bungo pukul 14.00 WIB. Aku sempat istirahat sebentar di kos Uni Za. Setelah mengelilingi muara bungo dan makan soup yang hangat, kami meneruskan perjalanan naek travel ke padang pukul 20.00.

Sampai padang kami di sambut Merry, teman baik Uni, pukul 02.00 WIB. aku langsung terlelap tanpa basa-basi di kamarnya. heuheuheu…

Pukul 06.00 kami langsung berambur ke pantai di daerah tabing yang cm ditempuh jalan kaki sekitar 15 menit. Subhanallah.. aku tercengang. Can’t believe. I miss beach so much… hihi.. *jadi kek orang kampung baru ke kota. Cengok. Banyak perasaan yg gak bisa didefinisikan… ^^ Apalagi pantai ini benar2 masih perawan. Bersih. Sepi. Hanya Kami.

Pukul 09.00 kami langsung bersiap ke Bukittinggi… Memakan waktu 2 jam dari padang ke bukittinggi. Sampai sana jam 11 kami langsung ke Ngarai sianok, lubang jepang yang cukup menyeramkan (karena lampunya saat itu sedang mati), kebun binatang yang disebut Taman Marga Satwa Budaya Kinantan, setelah itu shalat dzuhur dan ashar dijamak di Masjid Raya, dilanjutkan perjalanan ke Jam Gadang….Saat di jam gadang, aku bertemu sahabat lamaku sewaktu kuliah dulu, Nadia Nofrima, I miss her, My room mate selama 2 tahun… hihihi.. tapi  kami gak bisa melepas kangen lama2 karena rima sedang bersama temannya dan rombonganku sendiri memutuskan untuk kembali ke padang saat langit semakin gelap.

Continue reading “ngegembel = pasrah”

Advertisements
Posted in Uncategorized

Kematian itu pasti, dear…

Dari pagi dah berniat mo belajar ETHAP, sebuah software simulasi jaringan listrik. Mulai instal terus baca2 ebook kiriman teman di Palembang. Terus browsing sana sini, cari referensi. eh nyampe ke sini http://dektamie.wordpress.com/2008/08/27/etap/, ok, baca2….. hmm.. senasib kita. Penulis http://dektamie.wordpress.com/ ternyata anak PLN jg dan dia pny background informatika tapi “dipaksa” belajar ETHAP. hihi.. dan berdasarkan cerita yang ada di blognya dia anak jakarta juga.. (hmm.. juga?? yah, minimal aku kan lahir di jakarta dan 4 tahun di jakarta sampe akhirnya hijrah ke Depok.. xixixixi)

Continue reading “Kematian itu pasti, dear…”

Posted in Uncategorized

Hidup di tanah orang

Untuk kedua kalinya berada di “tanah” orang. Kebudayaan baru… Orang2 baru… bahasa baru…

Tidak mudah menyesuaikan lidah untuk hampir tiap hari makan masakan padang. Sama tidak mudahnya menyesuaikan kuping dengan logat bahasa sumatera yang “keras”… walau sebenarnya logat palembang enak juga didengar … bahasa2 seperti “cakmano”, “nak kemano”, “cacam”, “tengok-tengok”, “kau”, “apo dio”, “apo” dll…

Kebudayaan Jambi menurut saya pribadi adalah akulturasi antara padang dan palembang. Mungkin karena secara geografis Jambi terletak di antara Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

Continue reading “Hidup di tanah orang”