Menunda-nunda waktu

Banyak orang ingin tahu mengapa semakin banyak orang dari bangsa ini yang senang menundanunda pekerjaan. Jalan-jalan berlubang di kampung tempat tinggal saya, misalnya, kalau belum menjadi kubangan dalam belum ada perbaikan.

Kalaupun diperbaiki,kami semua harus menunggu sampai akhir tahun. Alhamdulillah, akhirnya Oktober ini lubang-lubang dalam itu sudah rata. Di Ambon, beberapa hari lalu seorang bapak menangis bercampur marah karena petugas PLN terlambat datang mengurus jaringan listrik yang bocor. Seorang anak kecil menjadi korban, tersetrum listrik dari air di bak mandi.

Di Medan, puluhan ibu-ibu mengamuk kepada petugas sebuah airlines di bandara, yang terkesan menggampangkan dan tidak cepat menangani keluarga mereka yang menumpang pesawat yang jatuh di lereng Pegunungan Bahorok. Media massa memberitakan, kalau cepat ditangani,kemungkinan besar beberapa korban masih hidup. Akhirnya keberangan publik semakin jelas menyaksikan lambatnya penyerapan APBN di hampir semua kementerian Republik Indonesia.

Seorang pejabat di Kementerian Keuangan pernah mengatakan, hingga akhir Februari lalu, anggaran pada 10 kementerian baru bisa menyerap 5%. Ini berarti mereka tidak langsung bekerja begitu DIPA diterima bulan Januari.Akibatnya,wajar kalau hingga Oktober tahun ini daya serap anggaran masih berkisar 50%.Ada yang bilang sudah sebesar 70%,tetapi banyak orang yang meragukannya.

Tapi,syukurlah,Anda hidup di Negeri Sangkuriang. Bahkan gedung-gedung olahraga yang sudah lama dianggarkan untuk pergelaran kompetisi SEA Games yang mencemaskan banyak pihak diramalkan akan jadi juga pada detik-detik terakhir. Selain Negeri Sangkuriang, Indonesia juga dikenal dengan tradisi ketok magic. Jangan tanya bagaimana caranya,pokoknya percaya saja.

Semua akan beres,selesai pada waktunya. Namun jangan tanya kualitasnya, apalagi check & balancenya. Sudah hampir pasti kerja seperti itu banyak masalahnya. Sepertinya ada masalah besar dalam business process di negeri ini, tetapi entah mengapa,walaupun sudah diperbaiki, tetap saja banyak masalahnya. Kalau prosesnya tidak tepat,apa yang bisa diharapkan pada hasilnya? Good process–great result! Nah kalau prosesnya saja sembarangan, bagaimana output-nya?

Prokrastinasi
Karena hal serupa terjadi berulang-ulang, sudah pasti pemerintah tahu apa yang menyebabkannya. Dulu, anggaran pemerintah baru bisa cair setelah bulan Juni. Perlahan- lahan diperbaiki menjadi bulan Maret dan sekarang sudah bisa dicairkan sejak awal tahun.Tapi masalahnya, mengapa bagian terbesar anggaran ini tetap dihabiskan setelah September? Bukankah ini berarti ”pikiran” aparat birokrasi belum berubah?

Sikap mental yang sering menunda-nunda itu dalam ilmu perilaku dikenal sebagai procrastinator (prokrastinator). Seseorang yang melakukan procrastination (prokrastinasi) punya tendensi mengganti pekerjaan-pekerjaan high priority dengan pekerjaanpekerjaan low priority. Orang-orang seperti ini biasanya pencemas yang senang menunda-nunda pekerjaan. Prokrastinator mengatakan mereka bisa bekerja bagus dalam suasana di bawah tekanan (under pressure).

Nahdalam birokrasi yang lembek dan lamban,mereka mendapatkan pembenaran. Tapi jangan cepat-cepat percaya bahwa kerja seperti itu bagus. Ada ilmu yang mengatakan sebenarnya prokrastinasi adalah bawaan lahir (human nature) sehingga kalau tidak dibentuk,semua manusia akan menunda-nunda pekerjaannya. A sense of timelessness ada dalam masyarakat suku-suku tertentu, bahkan berlaku sampai sekarang.

Bahkan orang-orang Barat memberi label prokrastinasi kepada orang-orang Afrika sebagai African Time.Di Benua Afrika kebiasaan buruk tidak menepati waktu antara lain dibentuk oleh orientasi waktu polikronik, yaitu kebiasaan mengerjakan banyak hal sekaligus. Adapun di Barat, orang-orang terbiasa menganut budaya monokronik, satu program sampai tuntas.

Lantas dari mana sumber etika ketepatan waktu? Para ahli percaya, etika ketepatan waktu berasal dari seorang ulama Yahudi bernama Hilec (100 BCE) yang mengajukan pertanyaan seperti ini: ”Jika saya bukan untuk diri saya, siapa yang akan melakukannya bagi saya? Tapi jika saya hanya untuk diri saya saja, siapakah saya? Dan bila tidak sekarang,kapan?” Prokrastinasi atau menunda- nunda pekerjaan, tidak taat pada waktu, dianggap sebagai perilaku yang tidak etis, selfish, dan merugikan orang lain.

Di Barat,berlaku pepatah, ”If not now,when?”Kalau bukan sekarang, kapan? Pepatah ini membuat banyak pendidikan kepemimpinan mengarahkan calon-calon pemimpin untuk tidak menunda-nunda masalah. Masalah harus cepat didiskusikan, direncanakan,dan diatasi. Dalam ilmu manajemen dikenal istilah time management yang marak diberikan dalam berbagai workshop di sekitar era 1980-an. Bukan hanya sikap mental yang mereka bentuk, melainkan juga alat-alat pencatat (agenda kerja) banyak.

Stephen Covey bahkan membagi orientasi waktu manusia ke dalam empat kategori. Generasi pertama adalah manusia denganalatbantuwaktu( jam) yang berfungsi memberi peringatan (alarmatauwake up call). Generasi kedua adalah time management dengan perencanaan dan kalender.Pada generasi ketiga, dimasukkan unsur perilaku seperti bekerja dengan prioritas, menjabarkan prinsip-prinsip pareto (bahwa 80% hasil yang didapat ternyata banyak diperoleh dari 20% pekerjaan yang penting), dan mengedepankan tata nilai.

Namun orientasi waktu generasi keempat sudah dikaitkan dengan tata kelola dengan menggunakan berbagai peralatan teknologi. Waktu berjalan, para ahli telah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa yang unggul bukanlah bangsa yang mengorbankan waktu dan bekerja tanpa memikirkan prioritas. Semakin sering suatu bangsa mengabaikan timeline, seperti yang Anda lihat, semakin fragile (mudah rusak, berisiko gagal) bangsa itu.

Punctuality Nite
Di Afrika, kebiasaan menunda- nunda waktu dirasakan banyak pebisnis sebagai penyakit menular yang sama bahayanya dengan HIV-AIDS. Maka pada Oktober empat tahun yang silam para pebisnis di Republik Pantai Gading bekerja sama dengan pemerintah menyelenggarakan pesta budaya untuk memerangi budaya jam Afrika. Mereka menggelar kompetisi ketepatan waktu berhadiah sebuah vila seharga Rp1 miliar.

Menurut Reuters, kompetisi itu dilakukan untuk membangun kesadaran tentang besarnya kerugian yang dialami bangsa dari perilaku bekerja tanpa memperkirakan waktu. Kompetisi itu ditutup dengan malam kesenian disebut punctuality night (malam ketepatan waktu) dengan subtema: African time is killing Africa–let’s fight it! Saya berpikir,

pemerintah yang baik tidak hanya peduli membangun bangsanya dengan hanya membangun infrastruktur fisik berupa jalan tol, pelabuhan, bendungan, dan gedung-gedung bertingkat saja. Pemerintah yang hebat perlu membangun budaya, yaitu budaya respek.Ini adalah budaya yang hampir hilang dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang menghargai waktu adalah orang-orang yang memiliki budaya respek.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/435517/34/

Mirror

http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=121&Itemid=57

Unlike · · Share

ieu teh juma’ah nyak?

Apa yg kamu pilih,dibenci saat menjadi diri sendiri atau dicintai saat menjadi orang lain?

kalo aku sih pilih yg pertama… :)

Aku memang orangnya keras, suka sok tau, keminter, dan sok2 mandiri… :P

ya, tapi…. aku lbh suka menunjukkan apa adanya diriku ini… hehehe… kecuali klo dah ada yang mulai menunjukkan sinyal2 negatif, aku baru interospeksi diri. sebisa mgkn kuubah, tp klo gak bisa… aku cm bisa nerima diriku apa adanya.. :D jadi yaaa… sambil berdoa aja, semoga aku gak mendzalimi orang laen… :) )

Pada dasarnya,keaslian / originality selalu yg terbaik dan lebih baik ketimbang kepura2an apalagi kepalsuan… karena yang namanya kuningan, walau sudah dilapisi emas, tetep aja kuningan… ya toooo… bukan berarti aku itu kuningan… :P

Setelah mengakui dan menerima kekurangan kita, insyaAllah kita akan lebih terbuka kok… dan akhirnya, kita jadi termotivasi untuk mengembangkan kelebihan kita. bahkan kadang kelemahan jg bisa jadi kelebihan looohh… caranya??? kalo buat yang pelupa bgt kyk aku ini… aku biasa ngandelin notes. jadinya malah nyatet semuanya… ;P *termasuk yg kagak penting2*

btw, ini sudah hari jum’at di minggu ke sekian dan ketahun sekian, aku ngerasa tidak sedang bersahabat dengan waktu…. lah itu, tiap kli ngeliat jam, selalu aja locatannya cepet2 amat, apa dia gak capek ya??? aku aja yg ngikutin dah ampir keabisan napas.. T_T

Ya sudahlah…. di dunia ini adalah tempatnya berinvestasi, beramal, supaya nanti bahagia pas di akhirat… :)

have a nice friday….

Semoga setiap tetes keringat dan air mata yang mengalir memiliki balasan yang indah nanti di surgaNya… aamiin… :) :)

Kesibukanku

Disuruh nulis kesibukan, ya udah, ku tulis aja ya di sini…

Kesibukanku dimulai dari bangn tidur ampe tidur lagi,

jadi sekitar jam 4 pagi sampe jam 11 malem.

Kalo pagi hari: jam 4 sampe jam 7:

-Solat, tilawah,

- Nyuci, Nyetrika,

-Jogging

-Masak (Akhir2 ini masak fokus di hari sabtu/minggu aja, senin-jum’at dah jarang bgt)

Jam 7 berangkat ke kantor, dengan furqonku tercinta.. ;)

Sampe di kantor, ku langsung masukin data2 gangguan hari kemarin via web. Kemudian bikin surat balasan yang didisposisikan ke aku.

Kalau lagi ada yang di survei (Misal mau bangun GI/Jaringan/Pembangkit) atau lagi ada gangguan jaringan, aku ke lapangan.

Tapi so far, aku lbih sering di kantor. Menganalisa data gangguan, dan membuat kesimpulan. Karena secara jabatan, aku fokus pada mutu dan keandalan.

Kadang aku rapat dengan unit2 (ada 6 unit di bawah cabangku) atau dengan wilayah, yang ada di Palembang.

Kerjaanku didominasi perintah dari atasan langsungku, seorang Asmen, tapi kadang aku jg membantu seniorku menyelesaikan pekerjaannya saat kerjaan seniorku itu sedang overload dan membludak.

Secara resmi, pulang kerja pukul 16.00, tapi saya hampir tidak pernah pulang jam segitu. Karena kadang saya lbih konsen kerja saat kantor sepi. hehehe. kantor ini rame sekali, byk orang seliweran. Tapi sekarang saya sudah pindah tempat duduk, agak mojok dan lebih pewe, semoga sih lbh konsen jadi gak keberisikan dan saya bisa pulang ontime.. :D I hope so.

Pulang kantor biasanya abis maghrib, klo maksimal sih jam 12 malem pernah.. :( waktu mo persiapan rapat mendadak dengan wilayah yang data2nya saya pegang. perlu diketahui, sayalah sumber data di sini.. :)

Sampe rumah biasanya mandi, solat dll.

Sempet2 in baca buku dan nonton, sekitar jam 11an dah tidur. Tapi kadang jam 9 jg udah tertidur lelap.

Pengen sih bisa maen2 silaturahmi ke rumah temen, tapi kadang dah capek bgt, jadi gak bisa.. :(

Pengen jg lancarin bahasa Inggrisku lagi yang udah tercecer gak jelas dengan ikut les bahasa Inggris.

Sabtu/Minggu kadang masuk untuk piket, dari jam 7 pagi ampe jam 7 malam. Semoga piket ini segera berakhir. Biasanya piket sabtu/minggu hanya untuk anak OJT, tapi berhubung kekurangan pegawai, jadi saya jg ikutan piket deh.. hix

Hari minggu saya ketemu sama temen2, silaturahmi di sebuah majelis yang ngebahas ilmu2 akhirat. Yah, setelah ampir 6 hari “hanya” berurusan dengan dunia ada 1 hari (hny 2 jam) saya berurusan sama ilmu akhirat. sangat minim sekali. miris. ironi.

Hari minggu diusahain masak, nyoba resep baru. Atau gak maen aja silaturahmi. atau gak ya pergi kondangan.. -__-’

Kalau refreshing saya suka jalan2 sama temen2, kemana aja yang tiba2 kepikiran. Paling seneng sih outbound. Baca buku sambil dengerin musik. Atau nonton film yang menginspirasi.

Kalau disimpulkan, masih byk idle time. Dan jg masih byk kegiatan yang belum bisa dilaksanain.

Tapi saya tetep aja gak sempet nulis… jadi nulis ini aja ya… hihihi.. :)

Semoga tetep bisa dianggap tulisan.

“Kewajiban yang ada lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Jadi manfaatkan seoptimal mungkin.”